Upacara Ngrsigana, Melaspas, dan Ngenteg Linggih di Pura Balai Banjar Desa Adat Glagalinggah

Oleh Admin Website Glagalinggah • Dipublikasikan pada Rabu, 1 April 2026

Upacara Ngrsigana, Melaspas, dan Ngenteg Linggih di Pura Balai Banjar Desa Adat Glagalinggah
56 kali dilihat

Upacara Ngrsigana, Melaspas, dan Ngenteg Linggih di Pura Balai Banjar Desa Adat Glagalinggah dilaksanakan pada Buda Wage Kelawu, Tilem Kesanga, tepatnya hari Rabu, 18 Maret 2026.

Upacara Ngrsigana merupakan ritual umat Hindu di Bali yang bertujuan untuk menyucikan pekarangan atau bangunan baru (mepelaspas) sekaligus menetralisir energi negatif (Bhuta Kala) agar berubah menjadi energi positif. Ritual ini memiliki makna penting dalam menciptakan keharmonisan antara aspek sekala (nyata) dan niskala (tak kasat mata).

Sementara itu, Melaspas dan Ngenteg Linggih adalah rangkaian upacara yadnya yang bertujuan untuk menyucikan serta meresmikan bangunan baru atau yang telah diperbaiki. Melaspas berfungsi untuk menyucikan fisik bangunan secara niskala (magis), sedangkan Ngenteg Linggih merupakan prosesi pengukuhan kedudukan tempat suci (pelinggih/pura) sebagai stana Ida Sang Hyang Widhi Wasa.

Upacara ini dihadiri oleh berbagai undangan penting, antara lain:

  • Wakil Gubernur Bali
  • Wakil Bupati Bangli
  • DPRD Provinsi Bali
  • DPRD Kabupaten Bangli
  • Camat Kintamani
  • Perbekel Desa Kintamani
  • Babinsa dan Bhabinkamtibmas Desa Kintamani
  • Perwakilan dari 7 Banjar Adat dan Dinas se- Desa Kintamani
  • Desa Adat Bukih dan Desa Adat Manikliyu

Upacara dipuput oleh Ida Pedanda Gede Satwika Putra Keniten dari Griya Kediri, Tegalalang, Bangli, serta didampingi oleh pemomong Kahyangan Tiga Desa Adat Glagalinggah.

Sumber dana pelaksanaan upacara berasal dari:

  • Urunan (swadaya) krama desa
  • Punia (sumbangan) dari krama desa adat glagalinggah, pemerintah, dan para pihak terkait.

Menurut Bandesa Adat glagalinggah, acara ini mendapat perhatian yang antusias dari masyarakat glagalinggah dalam mengikuti seluruh rangkaian kegiatan karena sudah lamanya prosesi mlaspas dan ngenteg linggih ini dilaksanakan. Hal ini terlihat dari semangat gotong royong krama, baik dalam bentuk materi maupun moril. Kegiatan ini mencerminkan penerapan konsep Tri Hita Karana, yaitu keharmonisan hubungan antara manusia dengan Tuhan, manusia dengan sesama, serta manusia dengan alam atau lingkungan.