TARI SAKRAL BARIS GLAGAH LAHIR DI GLAGALINGGAH, CERMINAN HARMONI PARAHYANGAN, PAWONGAN DAN PALEMAHAN

Oleh Admin Website Glagalinggah • Dipublikasikan pada Rabu, 16 September 2026

TARI SAKRAL BARIS GLAGAH LAHIR DI GLAGALINGGAH, CERMINAN HARMONI PARAHYANGAN, PAWONGAN DAN PALEMAHAN
7 kali dilihat

TARI SAKRAL BARIS GLAGAH
Desa Adat Glagalinggah, Kintamani
Keasrian alam kawasan Kintamani pada masa dahulu ditandai oleh hutan yang rindang, dengan pepohonan pinus yang kokoh menjulang tinggi serta berbagai jenis tumbuhan yang tumbuh subur. Kesuburan alam tersebut menjadi sumber kehidupan bagi masyarakat yang tinggal dan berkembang di kawasan tersebut.
Atas petunjuk dari Penglingsir, yang dimaknai sebagai tetua atau tokoh yang dituakan pada masa itu, beberapa masyarakat mulai melakukan pembabatan hutan yang dipenuhi oleh rerumputan “Glagah”, dengan tujuan untuk membuka lahan dan mendirikan sebuah pemukiman. Dengan semangat yang menggebu-gebu, masyarakat bergotong royong dan bahu-membahu dalam membuka hutan serta membangun pemukiman.
Masyarakat dari berbagai golongan turut datang dan bersatu padu memberikan bantuan. Perbedaan asal, golongan, dan latar belakang tidak menjadi penghalang untuk bersama-sama mewujudkan cita-cita membangun sebuah pemukiman. Berkat semangat kebersamaan, gotong royong, dan persatuan tersebut, akhirnya berdirilah sebuah desa yang lengkap dengan Parhyangan, yang kemudian dikenal sebagai Desa Glagalinggah.
Semangat dan perjuangan para tetua serta leluhur dalam membangun kehidupan masyarakat tersebut kemudian menjadi inspirasi lahirnya sebuah tari baris sakral yang diberi nama “Baris Glagah”. Melalui anugrah dari Ida Sesuhunan Desa Adat Glagalinggah, serta rasa bhakti dan penghormatan terhadap para leluhur, lahirlah sebuah karya tari yang tidak hanya menjadi ungkapan seni, tetapi juga menjadi bagian dari perjalanan spiritual dan budaya Desa Adat Glagalinggah.
Secara harfiah, Baris Glagah merupakan tari yang menggambarkan perjalanan masyarakat dalam membabat rerumputan Glagah sebagai bagian dari perjuangan membuka kawasan hutan hingga menjadi sebuah pemukiman. Baris Glagah tidak sekadar menggambarkan sebuah perjalanan, tetapi menjadi gambaran napas perjuangan para leluhur dalam membuka ruang kehidupan. Setiap langkah, gerak, dan hentakan menjadi simbol keberanian, keteguhan, serta semangat untuk membangun kehidupan secara bersama-sama.
Glagah yang dahulu memenuhi kawasan hutan menjadi saksi awal perjuangan tersebut, kemudian dihadirkan kembali melalui gerak, busana, dan properti sebagai identitas yang melekat pada Desa Glagalinggah. Kehadiran Glagah dalam tarian menjadi pengingat bahwa dari alam yang dahulu dibuka dengan penuh perjuangan, tumbuh sebuah kehidupan yang kemudian berkembang menjadi desa dengan adat, budaya, dan Parhyangan yang diwariskan hingga kini.
Dalam penyajiannya, Tari Sakral Baris Glagah terbagi ke dalam tiga bagian utama:
1. Pepeson
Bagian pepeson menggambarkan awal perjalanan masyarakat dalam memasuki kawasan hutan. Gerak dan pola barisan menghadirkan suasana kesiapan, keberanian, dan keteguhan hati para leluhur ketika memulai pembabatan hutan yang dipenuhi Glagah. Setiap langkah menjadi simbol tekad untuk membuka jalan menuju kehidupan dan pemukiman baru.
2. Pelayon
Bagian pelayon menghadirkan suasana perjalanan yang lebih tenang dan penuh penghayatan. Gerak yang mengalir menggambarkan proses masyarakat dalam menjalani perjuangan secara bertahap, dengan ketekunan, kesabaran, dan kebersamaan. Pada bagian ini tergambar hubungan manusia dengan alam sebagai ruang kehidupan yang harus dijaga dan dihormati.
3. Pengecet
Bagian pengecet menjadi gambaran puncak semangat dan persatuan masyarakat. Gerak tari menggambarkan hadirnya masyarakat dari berbagai golongan, suku, dan asal daerah yang berbeda, namun menyatukan hati dan tenaga dalam satu tujuan. Semangat menyamabraya, gotong royong, dan persatuan diwujudkan melalui gerak yang dinamis, menggambarkan tenaga masyarakat yang bersama-sama membuka hutan dan mendirikan pemukiman hingga menjadi sebuah desa.
Salah satu identitas utama Tari Sakral Baris Glagah terdapat pada busana dan propertinya. Busana dirancang untuk memperkuat karakter para penari sebagai representasi masyarakat pada masa awal terbentuknya pemukiman. Pada bagian ujung tombak ditambahkan batang dan daun Glagah sebagai simbol utama dan identitas taksu Desa Glagalinggah. Glagah bukan sekadar perlengkapan tari, tetapi menjadi pengingat akan jejak awal perjuangan leluhur yang kemudian menjadi bagian dari sejarah terbentuknya desa.
Tari Sakral Baris Glagah menjadi media untuk mengenang dan menghormati Penglingsir, para tetua, dan leluhur, serta sebagai wujud rasa bhakti kepada Ida Sesuhunan Desa Adat Glagalinggah yang telah menjadi bagian penting dalam perjalanan spiritual masyarakat. Di dalamnya terkandung nilai keberanian, persatuan, gotong royong, ketekunan, pengabdian, serta penghormatan terhadap alam sebagai sumber kehidupan.
Karena mengandung nilai sejarah, adat, dan spiritual yang kuat, Tari Baris Glagah direncanakan untuk disakralkan dan dipentaskan pada waktu tertentu, khususnya pada saat Puja Wali Ageng di Desa Adat Glagalinggah. Kesakralan tarian ini menjadi bentuk penghormatan terhadap Ida Sesuhunan, para Penglingsir dan leluhur, sekaligus upaya menjaga warisan nilai dan identitas desa agar tetap hidup dan diwariskan kepada generasi penerus.
Dengan demikian, Baris Glagah bukan hanya sebuah tarian, melainkan sebuah pengingat yang hidup tentang bagaimana para leluhur membuka jalan kehidupan dengan semangat kebersamaan, atas anugrah Ida Sesuhunan dan kehendak untuk menjaga keseimbangan antara manusia, alam, dan kehidupan spiritual. Dari Glagah yang dibabat, lahirlah sebuah pemukiman; dari persatuan dan gotong royong, berdirilah Desa Glagalinggah.
BARIS GLAGAH
“Dari Glagah yang dibabat, tumbuh persatuan; melalui anugrah Ida Sesuhunan, berdirilah Glagalinggah.”